Rabu, 28 Maret 2012

Aku dan Fisika


Aku Sukses karena Lebih Banyak Gagal

Pertamaku hirup nafas di MAN Tambak Beras Jombang, aku tercengang dan bingung. Belum pernah aku menemui kelas sehebat ini. Impian SMPku dulu untuk bias sekolah di SMA Negeri akhirnya terkabulkan.

            Aku bertemu dengan teman-teman yang hebat disini. Persaingan antar perorangan terjadi di lingkungan sekolahku. Aku yang berasal dari sekolah swasta menjadi minder bias masuk di kelas unggulan MAN Tambakberas Jombang. Namun, ketika aku sedang menimang Apa sebenarnya kehebatan yang aku punya sehingga aku bias keterima dikelas ini?. Salah satu teman baikku menasehatiku. Dia bilang “ Carilah sesuatu didirimu yang tidak dimiliki oleh orang lain, yang nantinya membuatmu menjadi berharga diantara orang-orang hebat disekitar kita!”. Kata-kata itu yang selalu memotivasi aku, tapi aku mencoba mencari-cari namun hasilnya buntu. Aku tak bisa menemukannya didiriku.

            Hingga ketika Ujian Semester 1 telah usai, pengumuman hasil ujian dipampang di dinding sekolah. Aku menemukan jalan menuju kesuksesanku yang sudah lama aku cari. Hasil ujian mata pelajaran Fisikaku mendapat nilai hampir 100% dikurangi 1%, yaitu : 99. Aku kaget dan tak percaya . inilah awal ceritaku bersama Fisika.

            “Fisika “ menurut semua murid SMA , inilah pelajaran paling sulit menurut mereka. Tapi, tidak bagiku Fisika adalah pelajaran yang paling aku sukai bersama Bapak Syafiuddin dan Ibu Elik Zuniaroh. Beliau membimbingku dari nol hingga aku bisa.

            Aku sering mengikuti banyak Olimpiade namun semuanya GAGAL. Aku sempat hampir putus asa, namun dari kegagalan itu yang memotivasiku untuk selalu bangkit. Ini olimpiade-olimpiade yang pernah aku ikuti, diantaranya : Finalis Olimpiade Fisika tingkat SMA se Wilker Surabaya (29 Mei 2011), Finalis Olimpiade Fisika UIN Malang seJawa Timur (26 September 2010), Finalis Olimpiade Fisika Se Jawa Bali UNESA (7 November 2010), Finalis Medspin 2010 UNAIR (21 November 2010), Finalis Kuis Fisika SMA UNAIR (28 November 2010), Semifinalis Olimpiade Fisika SMA Nasional ITS (26 Februari 2011) , finalis OSSPEN 2011 CCSMORA ITS (April 2011) , Finalis Olimpiade Fisika 2011 UM Malang (9 Oktober 2011). Dan yang terakhir adalah Juara Harapan II Olimpiade Sains dan Bahasa 2012 (11 Februari 2012). Meskipun Cuma seperti ini akhir perjuanganku bersama Fisika di masa SMAku. Namun aku sangat bangga bisa mempunyai pengalaman berharga ini. Mungkin ada seseorang yang bisa dengan gampang mendapatkan juara, namun aku percaya bahwa “Aku Lebih sukses, karen aku lebih banyak Gagal”.

Apa kunci dari kesuksesanku ? . ini ada beberapa poin antara lain:
1.       Mempunyai impian.
2.      Keyakinan.
3.      Disiplin ilmu.
4.      Tidak/ Pantang menyerah
5.      Menghormati guru.
(Semoga bisa bermanfaat!! Amien...)


Sabtu, 10 Maret 2012

Seni Rupa


Seni Rupa Indonesia
Seni Rupa adalah sebuah konsep atau nama untuk salah satu cabang seni yang bentuknya terdiri atas unsur-unsur rupa yaitu: garis, bidang, bentuk, tekstur, ruang dan warna. Unsur-unsur rupa tersebut tersusun menjadi satu dalam sebuah pola tertentu. Bentuk karya seni rupa merupakan keseluruhan unsur-unsur rupa yang tersusun dalam sebuah struktur atau komposisi yang bermakna. Unsur-unsur rupa tersebut bukan sekedar kumpulan atau akumulasi bagian-bagian yang tidak bermakna, akan tetapi dibuat sesuai dengan prinsip tertentu. Makna bentuk karya seni rupa tidak ditentukan oleh banyak atau sedikitnya unsur-unsur yang membentuknya, tetapi dari sifat struktur itu sendiri. Dengan kata lain kualitas keseluruhan sebuah karya seni lebih penting dari jumlah bagian-bagiannya.

               Karya seni rupa dapat dibagi menjadi dua yaitu: karya seni rupa dua dimensi dan karya seni rupa tiga dimensi. Karya seni rupa dua dimensi adalah karya seni rupa yang hanya memiliki dimensi panjang dan lebar atau karya yang hanya dapat dilihat dari satu arah pandang saja. Contohnya, seni lukis, seni grafis, seni ilustrasi, relief dan sebagainya. Karya seni rupatiga dimensi adalah karya seni rupa yang memiliki dimensi panjang, lebar dan tinggi, atau karya yang memiliki volume dan menempati ruang. Contoh : seni patung, seni kriya, seni keramik, seni arsitektur dan berbagai desain produk.

                Seni Rupa jika dilihat dari segi fungsinya dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu seni murni (fine art) dan seni pakai / terapan (applied art). Seni murni adalah karya seni rupayang dibuat semata-mata untuk memenuhi kebutuhan artistik. Orang mencipta karya seni murni umumnya berfungsi sebagai sarana untuk mengekspresikan cita rasa estetik. Kebebasan berekspresi dalam seni murni sangat diutamakan. Yang tergolong dalam seni murni yaitu: seni lukis, seni patung, seni grafis dan sebagian seni kerajinan.

               
Seni Terapan atau seni pakai (applied art) adalah karya seni rupa yang dibuat untuk memenuhi kebutuhan praktis. Contoh seni terapan yaitu:arsitektur, poster, keramik, baju, sepatu, dan lain-lain. Dalam pembuatan seni pakai biasanya faktor kegunaan lebih diutamakan daripada faktor keindahan atau artistiknya. Membuat karya seni terapantampak lebih sulit dibandingkan karya seni murni. Hal itu mungkin karena membuat karya seni murni terasa lebih bebas dibanding membuat karya seni terapan karena tidak memperhitungkan fungsi. Akan tetapi sering pula terjadi sebaliknya, melukis bisa lebih sulit daripada membuat rumah tinggal. 
Perkembangan Seni Rupa di Indonesia
A.      Seni Rupa Tradisional Indonesia
Perkembangan seni rupa tradisional Indonesia sudah dimulai sejak zaman prasejarah. Meskipun tidak ada orang yang tahu secara pasti kapan dimulainya zaman prasejarah. Periodesasi zaman prasejarah di Indonesia di bagi menjadi beberapa periode di antaranya : zaman batu dan zaman logam. Kedua zaman prasejarah ini, sama-sama memiliki karya seni rupa ( tradisional ) hal itu dapat di buktikan dengan adanya peninggalan-peninggalan yg berupa karya seni rupa yg bersipat tradisional seperti kapak genggam, gelang, kalung, tembikar bahkan ada lukisan.
Khusus mengenai lukisan tersebut, pertama kali di temukan di gua leang-leang sulawesi dan lukisan tersebut berupa penjiplakan telapak tangan pada dinding gua. Selain lukisan telaapak tangan,juga terdapat gambar binatang berupa gambar babi yang sedang meloncat dengan kondisi leher terluka.
1.    Zaman Batu /Seni Rupa Zaman Batu
a.    Seni Rupa Zaman Poleolitikum( Batu Tua )
Karya peninggalanya :
  • Kapak gengam ( chopper )
  • Batu berwarna ( Chalcedon )
  • Lukisan tangan dan babi
b.       Seni Rupa Zaman Meseolitikum ( Batu tengah)
Karya peninggalannya :
  • Mata panah
  • Batu penggiling
  • Kapak batu
c.       Seni Rupa Zaman Neolitikum ( Batu Muda/Dasar Kebudayaan Bangsa Indonesia)
Karya peninggalannya :
  • Kapak persegi
  • Kapak lonjong
  • Gelang
  • Kalung 
  • Cincin dari batu berwarna
  • Tembikar ( pengaruh masuknya bangsa cina ke Indonesia
d.       Seni Rupa Zaman Megalitikum( Batu Besar )
Karya peninggalannya :
  • Menhir
  • Dolmen Kubur batu 
  • Keranda batu (sarcopagus)
  • Punden berundak
  • Arca batu

2.    Seni Rupa Zaman Logam
Zaman logam di Indonesia dimulai sejak tahun 500 SM, yaiitu sejak kebudayaan indo-cina masuk ke Indonesia. Kebudayaan logam di Indonesia hanya mengalami zaman perunggu. Berikut adalah beberapa peninggalan seni rupa zaman perunggu :
  • Gendering perunggu
  • Kapak perunggu 
  • Bejana perunggu  
  • Ragam hias
Dari peninggalan benda-benda di atas, maka jelas sejak zaman prasejarah orang Indonesia sudah mengenal seni rupa meskipun masih sangat sederhana. Seni rupa tradsional Indonesia khususnya zaman prasejarah, selain untuk keperluan bertahan hidup, benda-benda karya seni mereka cenderung digunakan untuk kepentingan pemujaan (magis), seperti lukisan telapak tangan di gua leang-leang.
Lukisan telapak tangan tersebut diduga sebagai lambang rasa duka cita atas meninggalnya keluarga mereka. Kemudian lukisan babi yang terluka diartikan sebagai lambang pengharapan agar perburuan mereka berhasil.
3.    Seni Rupa Zaman Hindu-Budha.
                Zaman Hindu-Budha merupakan babak baru periodesasi kebudayan di Indonesia. Zaman ini juga di katakana sebagai akhir dari zaman prasejarah dan menjadi awal zaman sejarah. Hal ini di buktikan dengan adanya penemuan tulisan. Masa inipun sering dikatakana sebagai masa klasik. Peninggalan karya seni rupa pada masa Hindu-Budha yaitu prasasti dan candi. Prasasti adalah batu yang berisi sebuah tulisan tentang sesuatu peristiwa atau upacara tertentu yang dilakukan oleh orang-orang di lingkungan kerajaan. 

            Pada zaman Hindu-Budha,banyak sekali kerajaan yang berdiri, mulai dari kerajaan kecil sampai kerajaan besar. Hampir semua kerajaan memiliki peninggalan yang berupa prasasti. Berikut adalah beberapa prasasti peninggalan kerajaan-kerajaan pada masa Hindu-Budha.
  1. Prasasti ciaruteum yang bergambar telapak kaki (Kerajaan Tarumanegara) 
  2. Prasasti kedukan bukit ( 683),menyebutkan kemenangan Raja Dapunta hyang (Kerajaan Sriwijaya)
  3. Prasasti canggal di Gunung Wakir (732), menyebutkan Banga Sanjaya membangun sebuah lingga di daerah Kunjara Kunya di jawa Dwipa (Kerajaan Mataram Kuno) 
  4. Prasasti tukmas di lereng Gunung Merbabu,menyebutkan adanya mata air dari sumber yang dapat di samakan dengan sungai gangga (Kerajaan Kaling)
                Selain prasasti yang di sebutkan di atas, masih banyak lagi peninggalan kerajaan yang berkembang pada masa Hindu-Budha. Candi merupakan peninggalan zaman Hindu-Budha yang paling megah dan agung, karena orang zaman klasik  membangunnya untuk tujuan yang agung yaitu untuk kegiatan spiritual. 
            Candi berasal dari kata” Candika Gerha” yang artinya rumah dewi candika. Dewi Candika disebut juga Dewi Durga atau Dewi Maut. Orang membangun candi dengan harapan mendapat pertolongan dari  dewi durga dalam kematianya sehingga candi kebanyakan berfungsi sebangai kuburan raja-raja. Pada perkembangan selanjutnya, Fungsi candi menjadi bermacam-macam 

Jumat, 09 Maret 2012

Seni Musik

 Pengertian Seni Musik


  Apakah seni musik itu sebenarnya, dan maknanya bagi kehidupan manusia? Sepanjang sejarah banyak penyair, filusuf, penulis maupun musikus yang telah berupaya mendefinisikannya. Ada yang menganggap musik sebagai “bahasa para dewa”, atau ada pula yang mengatakan bahwa “musik dimulai di saat ujaran berakhir”. David Ewen mencatat sebuah definisi tentang musik yang dibuat oleh penyusun kamus sebagai “Ilmu pengetahuan dan seni tentang kombinasi ritmik dari nada-nada, baik vokal maupun instrumental, yang meliputi melodi dan harmoni sebagai ekspresi dari segala sesuatu yang ingin diungkapkan terutama aspek emosional”.
Schopenhauer, filusuf Jerman di abad ke-19 mengatakan dengan singkat bahwa “Musik adalah melodi yang syairnya adalah alam semesta”. Sementara itu menarik pula untuk dicatat pendapat Dello Joio, komponis Amerika keluaran Julliard School di New York, dan banyak bekerja sama dengan koreografer Martha Graham, bahwa “Mengenal musik dapat memperluas pengetahuan dan pandangan selain juga mengenal banyak hal lain di luar musik. Pengenalan terhadap musik akan menumbuhkan rasa penghargaan akan nilai seni, selain menyadari akan dimensi lain dari satu kenyataan yang selam ini tersembunyi.
Berikut ini adalah pendapat Suhastjarja, dosen senior Fakultas Kesenian Institut Seni Indonesia Yogyakarta, lulusan peabody Institute dari Amerika, bahwa “Musik ialah ungkapan rasa indah manusia dalam bentuk suatu konsep pemikiran yang bulan, dalam wujud nada-nada atau bunyi lainnya yang mengandung ritme dan harmoni, serta mempunyai suatu bentuk dalam ruang waktu yang dikenal oleh diri sendiri dan manusia lain dalam lingkungan hidupnya, sehingga dapat dimengerti dan dinikmatinya”. Lebih lanjut Suhastjarja mengemukakan bahwa oleh karena bentuk musik itu terbentang di ruang yang sifatnya spasial, maka ia dapat disejajarkan dengan bentuk-bentuk dalam seni sastra. Jika bentuk-bentuk sastra ditulis dari kiri ke kanan (kecuali dalam bahasa-bahasa Simetik dan bahasa-bahasa Oriental), bentuk-bentuk musik ditulis dari kiri ke kanan dan dari bawah ke atas, sehingga arah dari kiri ke kanan menunjukkan dimensi waktu, sedangkan dari arah bawah ke atas menunjukkan dimensi sifatnya akustik musikal. Kesejajaran dalam kalimat musik, seperti halnya dalam kalimat bahawa, terjadi antara frase anteseden dan frase konsekuen. Ini dapat dilihat dari tulisan musik secara horisontal dari kiri ke kanan, sedangkan kesejajaran yang vertikal antara dua garis melodi atau lebih yang berbunyi bersamaan, dapat dilihat dari tulisan musik secara horizontal sekaligus vertikal. Namun pengamatan tulisan musik secara vertikal khusus diperuntukkan bagi keselarasan bunyi bersama atau harmoni.
Peningkatan pengertian mengenai musik dapat dilakukan lewat peningkatan pengertian akan bentuk-bentuk musik, karena suatu imaji tanpa bentuk merupakan bayangan yang ruwet.

Sejarah Musik Di Indonesia
Berbicara tentang sejarah musik, musik telah dikenal sejak jaman nenek moyang kita. Musik kerap kali mengiringi upacara – upacara adat tertentu. Indonesia sendiri memiliki beragam jenis musik, hal ini dipengaruhi banyaknya suku adat yang ada. Dari 17.508 pulau yang ada di Indonesia memiliki budaya dan jenis musik sendiri. Tak salah bila Indonesia menjadi negara kaya akan seni dan budaya, termasuk seni musik ini. Musik tradisional yang paling banyak digemari adalah musik Gamelan dan Keroncong. Sedangkan musik moderen yang paling populer adalah musik pop dan dangdut. Musik menurut Aristoteles mempunyai kemapuan mendamaikan jiwa yang gundah, mempunyai terapi yang rekreatif dan munumbuhkan jiwa patriotisme. Ya kalo lagunya Garuda Pancasila, lha kalo lagunya Kamulah mahkluk Tuhan yang paling sexy milik Mulan Jameela..hehe
Jika menurut saya musik adalah sebuah irama yang berasal dari suatu alat musik yang dimainkan secara bersamaan. Terkadang musik juga bisa berasal dari bebunyian benda – benda yang dimainkan oleh sekelompok orang, contoh seperti kelompok – kelompok perkusi yang memainkan benda -benda yang bukan termasuk alat musik ( galon air, ember, botol, dll ).
Sejarah musik keroncong masuk di Indonesia dibawa oleh bangsa Portugis saat memasuki Indonesia. Pada awal tahun 1900 musik keroncong dianggap musik rendahan. Akan tetapi setelah tahun 1930 an musik keroncong mulai banyak digemari, saat itu dunia perfilman mulai menggabungkan musik keroncong dalam film – film yang diproduksi. Ketika itu musik keroncong terhubung dengan perjuangan kemerdekaan. Dan lagu keroncong yang sangat populer saat itu adalah Bengawan Solo ciptaan Gesang Martohartono yang ditulis pada tahun 1940. Lagu ini ditulis ketika Tentara Kekaisaran Jepang menguasai pulau Jawa pada Perang Dunia II. Tidak hanya populer dikalangan orang Jawa saja, akan tetapi lagu ini juga populer di kalangan tentara Jepang, ketika selesai perang lagu ini dibawa ke Negara asal nya dan mereka menyanyikannya di sana. Banyak penyanyi Jepang yang membuat best seller dengan lagu Bengawan Solo ini.
Dangdut, mejadi musik yang lebih modern dari Keroncong termasuk musik yang sangat banyak digemari di negeri ini. Walopun sebagian orang menganggap dangdut tergolong musik rendahan, namun tetap bertahan sampai sekarang. Dangdut juga tergolong musik dansa, dan sudah populer sejak tahun 1970 an. Dangdut memang sangat cocok dengan kondisi negara kita saat ini, dengan mengikuti irama musik dangdut seakan menghilangkan beban yang ada. Biarpun harga – harga melambung tinggi, goyang terus…tariik maang.. Dalam perkembangannya dangdut memang akrab ditelinga rakyat menengah ke bawah. Makin populer ketika muncul gelar Raja Dangdut ( Rhoma Irama ) dan Ratu dangdut ( Elvi Sukaesih ). Sampai sekarang musik dangdut masih sering terdengar ketika kita melintas dijalan – jalan perkampungan, perumahan bahkan di perkotaan. Sesekali saya saran kan dengarkan musik dangdut ini, tak usah malu..musik dangdut juga musik asli Indonesia. Dangdut is the music of my country seperti lagu Project P.
Sedangkan perkembangan musik Pop di Indonesia juga tak kalah cepat. Banyak sekali bermunculan band – band baru di Indonesia, dan semakin menambah semarak perkembangan musik di tanah air. Namun jika kita lihat sangat sedikit band – band yang mengusung musik daerah, apalagi dengan lagu bahasa daerah. Hampir tidak pernah kita temui. Namun begitu tetap juga ada sekelompok kecil yang tetap mempertahan kan musik daerah atau lagu dengan bahasa daerah, salah satunya adalah band dengan aliran Rock Funk de Java yang tetap mempertaha kan lirik lagunya dengan bahasa daerah. Waah…ini baru gebrakan, pengen tau seperti apa musik mereka…silahkan cari aja di google dengan mengetikkan keyword Funk de java. Satu lagi band yang mengusung musik – musik penggugah semangat anak muda untuk cinta Indonesia adalah Band Cokelat, pastinya sudah kenal kan..tak usah di uraikan profilnya..hehe
Dengan semakin berkembangnya musik di tanah air ini, harapannya semoga para pekerja musik di tanah air ini tetap mempertahankan budaya yang ada. Sehingga musik – musik daerah tetap bisa bertahan, walopun dengan sedikit sentuhan berbeda. Jika para pekerja musik bisa kreatif musik – musik daerah bisa dikembangkan atau mungkin diaransemen ulang dengan sedikit tambahan musik modern. Saya yakin hasilnya tetap enak didengar…saya inget teman saya pernah ngomong bahwa musik adalah bahasa universal..yang penting enak didengar, membuat kita rileks kenapa enggak..bagaimana dengan pendapat para sahabat??

Sumber: http://cahisisolo.com

Seni Tari


Sejarah Seni Tari Indonesia


SEJARAH SENI TARI INDONESIAPerjalanan dan bentuk seni tari di Indonesia sangat terkait dengan perkembangan kehidupanmasyarakatnya, baik ditinjau dari struktur etnik maupun dalam lingkup negara kesatuan.Jika ditinjau sekilas perkembangan Indonesia sebagai negara kesatuan, maka perkembangantersebut tidak terlepas dari latar belakang keadaan masyarakat Indonesia pada masalalu.James R. Brandon (1967), salah seorang peneliti seni pertunjukan Asia Tenggara asal Eropa,membagi empat periode budaya di Asia Tenggara termasuk Indonesia yaitu:1) periode pra-sejarah sekitar 2500 tahun sebelum Masehi sampai 100 Masehi (M)2) periode sekitar 100 M sampai 1000 M masuknya kebudayaan India,3) periode sekitar 1300 M sampai 1750 pengaruh Islam masuk, dan4) periode sekitar 1750M sampai akhir Perang Dunia II.Pada saat itu, Amerika Serikat dan Eropa secara politis dan ekonomis menguasai seluruh AsiaTenggara, kecuali Thailand.Menurut Soedarsono (1977), salah seorang budayawan dan peneliti seni pertunjukanIndonesia, menjelaskan bahwa, ³secara garis besar perkembangan seni pertunjukan Indonesiatradisional sangat dipengaruhi oleh adanya kontak dengan budaya besar dari luar [asing]´.Berdasarkan pendapat Soedarsono tersebut, maka perkembangan seni pertunjukan tradisionalIndonesia secara garis besar terbagi atas periode masa pra pengaruh asing dan masa pengaruhasing. Namun apabila ditinjau dari perkembangan masyarakat Indonesia hingga saat ini,maka masyarakat sekarang merupakan masyarakat Indonesia dalam lingkup negara kesatuan.Tentu saja masing-masing periode telah menampilkan budaya yang berbeda bagi senipertunjukan, karena kehidupan kesenian sangat tergantung pada masyarakat pendukungnya.Perkembangan masyarakat dan keseniannya tidak merupakan perkembangan yang terputussatu sama lain, melainkan saling berkesinambungan. Edi Sedyawati (1981: 112-118)menggambarkan secara vertikal perkembangan tari di Indonesia dalam lima tahapan yaitutahap:1. kehidupan yang terpencil dalam wilayah-wilayah etnik,2. masuknya pengaruh-pengaruh luar sebagai unsur asing,3. penembusan secara sengaja atas batas-batas kesukuan [etnik],4. gagasan mengenai perkembangan tari untuk taraf nasional,5. kedewasaan baru yang ditandai oleh pencarian nilai-nilai.Setiap wilayah etnik di Indonesia belum tentu telah mengalami tahapan tersebut, bahkandalam wilayah-wilayah tertentu mungkin masih dalam tahapan pertama. Jika ditinjau sekilasperkembangan Indonesia sebagai negara kesatuan, maka tahapan perkembangan tari tersebutterkait dengan perubahan struktur masyarakat.MASA PRA-KERAJAANPada masa ini dapat diidentikkan pula dengan masa pra-Hindu atau pra pengaruh asing.Bentuk-bentuk seni pertunjukan pada masa ini, masih banyak terdapat di daerah pedalamanyang terpencil yang diwarnai oleh kepercayaan animisme. Menurut pengamatan Soedarsono(Op.Cit) sisa-sisa pertunjukan yang berbau animisme, penyembahan nenek moyang danbinatang totem, masih bisa dijumpai di Irian Jaya, pedalaman Kalimantan, pedalamanSumatra, pedalaman Sulawesi, beberapa daerah di Bali yang disebut Bali Aga atau Bali Mula,seperti Trunyan dan Tenganan, serta di Jawa. Perwujudan tari pada masa itu didugamerupakan refleksi dari satu kebulatan kehidupan masyarakat agraris yang terkait dengan
          Adat istiadat, kepercayaan, dan norma kehidupannya secara turun temurun.Oleh karena itu, tari merupakan bentuk seni fungsional atau "utilitas" bagi masyarakatnya.Tema dan pengungkapan lewat gerak tidak terpisahkan dari kepentingan menyeluruh "sangKosmos" (Umar Kayam, 1981). Biasanya penyajian tari terkait dengan upacara ritual yangbersifat magis dan sakral. Untuk itu maka diperlukan tempat dan perhitungan waktu tertentu.Jika mengikuti sistem keadatan, maka pelaku tariannya pun tertentu pula.Beberapa sisa tarian pada masa itu yang kini masih bisa diamati, baik dalam upacara maupundalam bentuk tontonan, seperti Tari Kuda Kepang atau Tari Jathilan di Jawa Tengah, TariTopeng Hudoq dari Kalimantan, menampilkan gerak tari yang sederhana dan mengutamakanekspresi spontan dari pelakunya. Ciri-ciri tersebut tampaknya merupakan kondisi dasar yanghampir sama di wilayah-wilayah etnik yang agraris.CIRI-CIRI TARI AGRARISContoh lain pertunjukan tari yang mempunyai ciri-ciri di atas adalah drama bertopengBerutuk di Desa Trunyan, Bali Utara sekitar Danau Batur Propinsi Bangli (Bandem anddeBoer, 1981). Drama bertopeng tersebut berfungsi untuk memperingati nenek moyangmereka yang disebut Batara Berutuk. James Danandjaja (1980: 120-407), salah seorangantropolog dan etnolog Indonesia, menjelaskan bahwa upacara ritual ini merupakan upacarakesuburan yang dilambangkan oleh adegan percintaan atau perkawinan (sekelompok pemudayang memerankan) Ratu Sakti Pancering Jagat dan permaisurinya Ratu Ayu Pingit DalamDasar. Drama bertopeng ini masih dilaksanakan hingga kini oleh masyarakatnya.Di Jawa, tarian yang terkait dengan upacara kesuburan adalah tayuban. Tarian ini merupakantari berpasangan yang diwujudkan oleh ekspresi hubungan romantis antara wanita (penariledhek atau ronggeng) dengan pria (pengibing) (Soedarsono, 1976, 1985). Meskipun padasaat ini penyajian tayuban sulit untuk dipisahkan antara kepentingan upacara atau hiburankarena pergeseran fungsi dan nilai dalam masyarakat, tampaknya masyarakat pendukungnyamasih menempatkan tayuban sebagai pertunjukan yang masih mempunyai nilai sakral dalamacara perkawinan dan pertanian. Situasi yang sama terdapat pula di Indramayu, Jawa Barat,pada upacara tahunan yang disebut ngarot dalam bentuk pertunjukan ronggeng ketuk.MASA KERAJAANMasa kerajaan ini ditandai oleh masuknya pengaruh luar sebagai unsur asing antara lain,kebudayaan Cina, Hindu-Budha, Islam, dan Barat. Kebudayaan Cina kurang mendapatperhatian oleh para peneliti, karena kemungkinan dasar kepercayaan yang hampir samadengan masyarakat pribumi, yaitu percaya kepada roh-roh leluhur, sehingga kurang begitunyata pada perubahan sistem kemasyarakatannya.Barangkali pula karena nenek moyang yang menghuni Indonesia oleh para pakar kebudayaandikatakan imigran dari daratan Asia yaitu wilayah Cina bagian Selatan. Maka pengaruhbudaya Cina ini berbeda dengan pengaruh asing lainnya terutama pengaruh Hindu, Islam, danBarat. Pengaruh ini sangat nyata pada stratifikasi sosial yang hirarkis yang ditandai denganadanya sistem kelas sosial, yaitu masyarakat adat atau rakyat dan masyarakat bangsawan atauistana. Sistem ini cukup langgeng dari awal berdirinya kerajaan-kerajaan pada sekitar abadke-4 sampai awal abad ke-20. Dengan adanya dua kelas sosial ini maka muncul dua wajahtari yang disebut tari rakyat dan tari istana atau tari klasik.Pengaruh kebudayaan India (atau Hindu/Budha) semula berlangsung di Kalimantan dan
 
Sumatra, tetapi proses akulturasi sangat kuat di Jawa dan Bali (Soedarsono, 1977). Jika masapra-Hindu manusia masih merupakan bagian dari kosmosnya,maka ketika masuk pengaruhHindu dan berdirinya kerajaan-kerajaan titik berat pusat orientasi kosmos terletak padakedudukan sang raja (Umar Kayam, Op.Cit).Tarian merupakan bagian yang menyertai perkembangan pusat baru ini. Ternyata pada masakerajaan ini tari mencapai tingkat estetis yang tinggi. Jika dalam lingkungan rakyat tarianbersifat spontan dan sederhana, maka dalam lingkungan istana tarian mempunyai standar,rumit, halus, dan simbolis. Jika ditinjau dari aspek gerak, maka pengaruh tari India yangterdapat pada tari-tarian istana Jawa terletak pada posisi tangan, dan di Bali ditambah dengangerak mata. Posisi tangan dan gerak mata pada tarian India mempunyai arti tertentu yaituberarti kata benda, kata sifat, kata kerja, dan sebagainya, sedangkan posisi tangan dan gerak mata pada tari Jawa dan Bali tampaknya sudah kehilangan makna aslinya, mungkin hanyauntuk kepentingan estetis saja.

;;